Juwie’s Blog

Just another WordPress.com weblog

KAIDAH DAN PENERAPAN EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN (EYD)*

Posted by juwie on March 24, 2009


oleh

Dr. Cece Sobarna**

Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran

1. Pendahuluan

Dalam pemahaman umum, bahasa Indonesia sudah diketahui sebagai alat berkomunikasi. Setiap situasi memungkinkan seseorang memilih variasi bahasa yang akan digunakannya. Berbagai faktor turut menentukan pemilihan tersebut, seperti penulis, pembaca, pokok pembicaraan, dan sarana.

Dalam situasi resmi, misalnya dalam kegiatan ilmiah, sudah sepantasnya digunakan bahasa Indonesia ragam baku. Salah satu ciri ragam bahasa ilmiah ialah benar (Nazar, 2004: 101; bandingkan pula Djajasudarma, 1999: 128). Pemahaman benar yaitu menyangkut kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia baku. Ragam bahasa baku dipahami sebagai ragam bahasa yang dipandang sebagai ukuran yang pantas dijadikan standar dan memenuhi syarat sebagai ragam bahasa orang yang berpendidikan. Kaidah yang menyertai ragam baku mantap, tetapi tidak kaku, cukup luwes sehingga memungkinkan perubahan yang bersistem dan teratur di berbagai bidang. Hal ini tentu saja dalam kerangka bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik dalam pemahaman sesuai dengan situasi dan benar dalam pemahaman sesuai dengan kaidah tata bahasa (Sugihastuti, 2003: 9).

Bahasa dalam laporan penelitian, sebagaimana telah dijelaskan, memilih ragam baku sebagai sarananya, benar kaidahnya, dan memenuhi ciri sebagai ragam standar orang berpendidikan. Namun, pada kenyataannya masih banyak ditemukan kesalahan dalam berbagai tataran bahasa, termasuk dalam penggunaan Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ejaan sebagaimana telah dipahami bersama adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang itu. Secara teknis yang dimaksud ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca (Arifin & Tasai, 2004: 170; baca pula Mustakim, 1996; Rahardi, 2003). Oleh karena itu, penguasaan ejaan mutlak diperlukan bagi seseorang yang berkecimpung dalam kegiatan ilmiah. Berikut ini disajikan kaidah ejaan yang sering dilanggar berikut pembetulannya (contoh-contoh diambil dari Nazar, 2004).

2. Pemenggalan Kata pada Ujung Baris

Kaidah

  1. Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.
  2. Akhiran -i tidak dipenggal dari kata dasarnya.

Contoh:

Benar

Salah

… memenuhi

…memenuh-

i

Kaidah

Kata yang terdiri atas satu suku kata tidak dipenggal.

Contoh:

Benar

Salah

… … … yang

… … … ya-

ng

Kaidah

Jika di tengah kata terdapat konsonan di antara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan.

Contoh:

Benar

Salah

… … … ta-

nam

… … … tan-

am

Kaidah

Gabungan huruf yang melambangkan satu fonem konsonan (ny, ng, sy, kh) tidak boleh dipenggal.

Contoh:

Benar

Salah

… … masya-

rakat

… … … mas-

yarakat

Kaidah

Jika di tengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara konsonan pertama dengan konsonan kedua.

Contoh:

Benar

Salah

… … … kon-

struksi

… … … kons-

truksi

Kaidah

Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur kata dasar dan salah satu unsur tersebut hanya dipakai dalam kombinasi, pemenggalan dapat dilakukan antara kedua unsur kata dasar itu.

Contoh:

Benar

Salah

… … infra-

struktur

… … infras -

truktur

3. Pemakaian Huruf Kapital

Pada beberapa karangan ilmiah sering dijumpai pemakaian huruf kapital pada awal kata yang tidak sesuai dengan kaidah EYD. Penyimpangan tersebut di antaranya ialah pemakaian huruf kapital pada huruf pertama kata-kata yang dianggap penting dalam suatu kalimat dan juga pada awal kata tugas yang terdapat di tengah-tengah judul.

Kaidah

Huruf kapital dipakai pada huruf pertama petikan langsung.

Contoh:

Benar

Santoso berkata, “Fungsi bahasa yang paling dasar adalah menjelmakan pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan.”

Salah

…, “fungsi …”

Kaidah

Huruf kapital tidak dipakai pada huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan agama yang tidak diikuti nama orang. Sebaliknya, huruf kapital dipakai apabila nama gelar-gelar tersebut diikuti nama orang.

Contoh:

Benar

Salah seorang politikus Indonesia yang terkenal ialah Haji Agus Salim.

Salah

Dalam agama Islam, umat yang mampu diwajibkan naik Haji.

Kaidah

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu dan tidak dipakai jika tidak diikuti nama orang.
  2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjukan hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan dan tidak dipakai jika tidak untuk penyapaan.

Contoh:

Benar

Salah seorang pejabat yang hadir dalam pertemuan itu ialah Camat Hidayat.

Salah

Rapat itu dihadiri oleh beberapa orang Camat.

Kaidah

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Contoh:

Benar

Rudolf Diesel ialah seorang teknolog bangsa Jerman yang menciptakan salah satu jenis motor bakar yang kemudian disebut motor diesel.

Salah

Banyak kendaraan sekarang menggunakan motor Diesel.

Kaidah

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, serta bahasa, tetapi tidak dipakai sebagai huruf pertama pada nama-nama tersebut jika nama-nama tersebut merupakan bentuk dasar kata turunan.

Contoh:

Benar

Untuk memperkaya bahasa Indonesia, banyak istilah asing yang diindonesiakan.

Salah

Istilah “standardisasi”di-Indonesia-kan dari istilah asing “standardization”.

Kaidah

  1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi, tetapi tidak dipakai apabila istilah geografi tersebut tidak menjadi unsur nama diri.
  2. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Contoh:

Benar

Jembatan Ampera di Palembang dibangun di atas Sungai Musi.

Salah

Untuk kegiatan penelitian itu, dilakukan penyelamatan di dasar Sungai.

Kaidah

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Contoh:

Benar

Sekarang sedang disusun Rancangan Undang-Undang Kepegawaian.

Salah

Setiap negara memiliki Undang-Undang.

Kaidah

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata tugas yang terdapat di tengah judul karangan/buku, nama majalah, dan nama surat kabar.

Contoh:

Benar

Pidato dan Diskusi (judul anak bab)

Salah

Cara Yang Tepat Untuk Berpidato (judul anak bab)

4. Penulisan Kata

4.1 Kata Turunan

Kaidah

  1. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
  2. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.

Contoh:

Benar

Salah

berdaya guna

berdaya-guna

berdayaguna

Kaidah

  1. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
  2. Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu ditulis tanda hubung.
  3. Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.

Contoh:

Benar

Salah

antarbudaya

antar budaya

4.2 Kata Depan di, ke, dan daripada

Masalah dalam penerapan kaidah penulisan kata depan di dan ke tidaklah terdapat pada kata depan itu sendiri, tetapi pada keraguan penulis karangan untuk membedakan bentuk di dan ke sebagai kata depan atau sebagai awalan. Perlu diingat bahwa kata depan di dan ke selalu menunjukkan tempat atau arah atau menunjukkan bentuk abstrak yang menyatakan tempat. Penulisan di dan ke sebagai kata depan sama halnya dengan jenis kata depan lain seperti kata pada, dari, oleh yang ditulis terpisah dari kata berikutnya, kecuali kata depan kepada dan daripada yang ditulis serangkai.

Contoh:

Benar

Salah

di kampus

ke desa

daripada

dikampus

kedesa

dari pada

Bandingkanlah dengan contoh di bawah ini. Pada contoh ini bentuk di dan ke sebagai awalan.

Benar

Salah

dilaksanakan

kesatu

di laksanakan

ke satu

4.3 Partikel pun

Kaidah

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali jika kelompok kata itu berbentuk padu.

Contoh:

(1) Masalah itu pun harus menjadi perhatian kita.

(2) Sekali pun ia tidak pernah hadir dalam pertemuan itu.

(3) Sekalipun demikian, hasil penelitian itu masih bermanfaat untuk kemajuan industri.

4.4 Partikel per

Kaidah

Partikel per berarti “demi” atau “tiap-tiap” ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh:

Benar

Salah

Satu per satu

Satu persatu

.

4.5 Singkatan dan Akronim

Singkatan ialah bentuk kata atau kelompok kata yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Akronim ialah singkatan berupa gabungan huruf awal, gabungan huruf, dan suku kata dari suatu kelompok kata yang diperlakukan sebagai kata.

Kaidah

Baik singkatan maupun akronim nama resmi lembaga, pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi tidak diikuti dengan tanda titik.

Contoh:

Benar

Salah

DPR

D.P.R

Kaidah

Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Contoh:

Benar

Salah

hlm.

hal

Kaidah

Singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Contoh:

Benar

Salah

Na

Na.

5. Angka dan Lambang Bilangan

Dalam karangan ilmiah, lambang bilangan dapat ditulis dengan angka atau dengan kata-kata. Lambang angka yang digunakan dapat berupa angka Arab (1, 2, 3, 4, dst.) atau angka Romawi (I, II, III, IV, dst.). Angka Arab biasanya dipakai untuk menyatakan ukuran, satuan, nilai, kuantitas, tanggal, buku, tahun, perincian, dan penomoran. Angka Romawi biasanya digunakan untuk menyatakan bilangan tingkat, abad, bagian buku seperti jilid, bab, subbab, dan penomoran jalan. Penulisan angka Romawi dapat diekuivalenkan dengan angka Arab.

Contoh:

Benar

Salah

XX = ke-20

ke 20

Kaidah

Lambang bilangan baik ditulis dengan angka maupun dengan kata-kata dapat diberi akhiran -an.

Benar

Salah

5.000 – an

5.000 an

5.1 Bilangan Pecahan

Dua puluh dua pertiga dapat berarti

a.

b.

Untuk menghindari salah tafsir, digunakan tanda hubung sebagai pembeda.

a. = dua puluh dua-pertiga

b. = dua-puluh-dua-pertiga

Kaidah

Bilangan yang menunjukkan jumlah besar dapat ditulis sebagian dengan angka dan sebagian dengan kata-kata.

Contoh:

Benar

Salah

120 juta

120 – juta

Kaidah

Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dalam bentuk kata, kecuali jika bilangan dinyatakan berturut-turut.

Contoh:

Benar

Ia telah mewawancarai lima belas orang responden.

Salah

15 orang ….

Kaidah

Lambang bilangan pada awal kalimat harus dinyatakan dalam bentuk kata. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang dinyatakan dengan angka tidak terdapat pada awal kalimat.

Contoh:

Benar

Telah disebarkan seratus lembar angket kepada sampel yang telah ditentukan.

Salah

100 lembar angket ….

Kaidah

Pada dokumen resmi seperti akta dan kuitansi, bilangan dinyatakan dalam bentuk kata, serta penulisannya harus tepat.

Contoh:

Benar

Telah diterima uang sebesar Rp15.500,25 (lima belas ribu dua ratus dan dua puluh lima perseratus rupiah).

Salah

… Rp 15.500,25

6. Unsur Serapan

Dalam memenuhi kebutuhan pengungkapan konsep-konsep ilmiah, banyak istilah bahasa asing ataupun daerah yang diindonesiakan. Di bawah ini disajikan sejumlah contoh yang sering dijumpai dalam karangan ilmiah yang ditulis dalam ejaan yang salah.

Contoh:

Benar

Salah

analisis

anggota

metode

objek

subjek

teknik

analisa

anggauta

metoda

obyek

subyek

tehnik

7. Tanda Baca

Ketepatan pemakaian tanda baca pada karangan ilmiah sangat penting karena selain untuk kedisiplinan, kesalahan pemakaian tanda baca adakalanya dapat mengubah makna. Walaupun demikian, kekeliruan pemakaian tanda baca pada karangan ilmiah masih sangat sering dijumpai. Kekeliruan ini terutama dijumpai pada judul bagian-bagian bab, penomoran yang menyatakan bagian-bagian anak bab, sumber data yang dicantumkan pada catatan kaki dan daftar pustaka, serta pemakaian tanda baca di tengah kalimat. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh.

Kaidah

Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul suatu karangan (seperti judul buku, bab, bagian-bagian bab) ilustrasi, dan tabel.

Contoh:

Benar

Salah

Ilmu dalam Perspektif

Ilmu dalam Perspektif.

Kaidah

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka terakhir yang menyatakan penomoran bagian-bagian anak bab.

Contoh:

Benar

Salah

2.1 Kalimat

2.1.1 Struktur

2.1.2 Makna

2.1. Kalimat

2.1.1. Struktur

2.2.2. Makna

Kaidah

Tanda titik dipakai di antara nama penulis, tahun, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan kota penerbitan, serta di belakang nama penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh:

Benar

Suriasumantri, Yuyun S. (Ed.). 1987. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia

Kaidah

Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Contoh:

Benar

Arismunandar (1984: 94) mengatakan, “Saat penyemprotan bahan-bahan yang optimum bergantung pada cara pembentukan bahan campuran serta kecepatan dan beban mesin yang bersangkutan.”

Salah

… : “ … “.

Kaidah

Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur suatu ringkasan.

Benar

Pakan ternak yang dibuat terdiri atas: tepung bekicot, ampas tahu, dedak, daun singkong, dan sagu.

Kaidah

Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dan induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Sebaliknya, jika anak kalimat mengikuti induk kalimat, tanda koma tidak dipakai.

Contoh:

Benar

Untuk meminimalkan pajak-pajak pendapatan federal, terdapat beberapa cara yang tidak bertentangan dengan hukum.

Salah

Jika algoritma dapat diuraikan ke dalam beberapa modul dapat dikatakan algoritma bersifat moduler.

Kaidah

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimatnya.

Contoh:

Benar

Pembentukan es pada katup gas akan menghalangi masuknya udara sehingga dapat menimbulkan bahaya.

Salah

Banyak ikan yang mati di perairan tersebut, karena tidak tahan terhadap gangguan zat-zat kimia yang larut dalam perairan tersebut.

Kaidah

Tanda koma dipakai di belakang ungkapan penghubung yang tedapat pada awal kalimat. Ungkapan penghubung yang dimaksud adalah: jadi, dengan demikian, oleh karena itu, oleh sebab itu, lagi pula, akan tetapi, meskipun demikian, walaupun begitu, sebaliknya, di samping itu.

Contoh:

Benar

Jadi, kecanduan narkotika tidak dapat dihilangkan dengan cepat.

Salah

Oleh karena itu wahana yang ada hendaknya digunakan untuk melaksanakan pendidikan yang dapat mengembangkan sains dan teknologi.

Kaidah

Untuk menghindari salah tafsir makna kalimat, tanda koma dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Contoh:

Benar

Dalam bidang industri, ilmu kimia sangat berperan untuk meningkatkan produksi.

Salah

Dari segi wisata perkembangan industri sepatu di Cibaduyut sangat menguntungkan.

Kaidah

Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang terdapat di tengah kalimat.

Contoh:

Benar

Itulah arti penting geologi bagi manusia, sebagai suatu disiplin ilmu kebumian, yang dapat membawa manfaat dan kesejahteraan bagi menusia.

Salah

Aktiva-aktiva penting seperti barang tak bergerak dan efek perseroan terbatas dilaporkan secara terpisah.

Dalam karangan ilmiah, sering uraian disertai suatu pernyataan lengkap bila diikuti pemerian, tetapi tanda titik dua tidak dipakai jika pemerian itu merupakan objek atau pelengkap kalimat.

Contoh:

Benar

Penelitian itu dilakukan terhadap kelompok masyarakat: petani, buruh, pedagang, manajer, dan pegawai negeri.

Salah

Mereka meneliti: pegawai negeri dan non pegawai negeri.

Kaidah

Tanda hubung dipakai antara dua kata atau dua bagian kata yang menunjukkan bahwa kedua bagian yang dihubungkan itu merupakan satu kesatuan. Dalam karangan ilmiah, sering dijumpai kesalahan penempatan tanda hubung pada pemenggalan kata di ujung baris dan juga tanda hubung sering tidak dipakai pada kata ulang.

Contoh:

Benar

Salah

…dilaksa-

nakan

efek-efek

… dilaksa

nakan

efek efek

Kaidah

Tanda hubung dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan untuk menghindari makna ganda.

Contoh:

ber-evolusi

be-revolusi

Kaidah

Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan awalan dengan kata dasar yang dimulai dengan huruf kapital atau kata dasar dengan akhiran yang dimulai dengan huruf kapital atau kata dasar yang terdiri atas huruf kapital dengan imbuhannya.

Contoh:

Benar

Salah

se-Jawa Barat

se Jawa Barat

Dalam karangan ilmiah masih sering digunakan istilah asing karena belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Jika istilah asing mendapat imbuhan bahasa Indonesia, antara imbuhan dan istilah asing itu ditulis tanda hubung.

Contoh:

Benar

Salah

pen-tackle-an

pentacklean

Dalam mengutip suatu pendapat pada karangan ilmiah, tidak selalu kutipan itu ditulis utuh. Adakalanya bagian yang dianggap tidak perlu ditanggalkan dan diganti dengan tanda elips yaitu tiga buah titik jika bagian yang ditinggalkan pada bagian awal atau tengah kalimat dan empat buah titik bila bagian yang ditinggalkan itu pada bagian akhir kalimat.

Contoh:

” … Ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris … “

Pemakaian tanda petik pada karangan ilmiah tidak hanya untuk kutipan, tetapi juga untuk mengapit istilah yang kurang dikenal atau mempunyai arti khusus dan juga untuk judul artikel yang dimuat pada suatu buku, majalah, atau surat kabar yang diungkapkan dalam kalimat.

Contoh:

Ia “diamankan”.

8. Penutup

Ejaan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam hal (1) landasan pembakuan tata bahasa, (2) landasan pembakuan kosakata dan peristrilahan, dan (3) alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, ejaan mempunyai fungsi praktis yaitu membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis.

Pemahaman pada ejaan yang benar kiranya dapat mendorong pengguna bahasa Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa modern yang dapat mengaktualisasikan konsep-konsep ipteks.


PUSTAKA ACUAN UTAMA

Nazar, Noerzisri. 2004. Bahasa Indonesia dalam Karangan Ilmiah. Bandung: Huma-

niora.

Sugono, Dendy (Penyunting). 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 & 2. Jakarta:

Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. 2004. Pedoman Umum Ejaan Bahasa

Indonesia yang Disempurnan. Jakarta: Pusat Bahasa.

PUSTAKA ACUAN PENDUKUNG

Arifin, Zaenal & S. Amran Tasai. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Edisi Baru.

Jakarta: Akademika Pressindo.

Djajasudarma, 1999. Penalaran Deduktif-Induktif dalam Wacana Bahasa Indonesia.
Bandung: Alqaprint.

Mustakim. 1996. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Rahardi, R. Kunjana. 2003. Bulir-bulir Masalah Kebahasaanindonesiaan Mutakhir.

Malang: Dioma.

Sugihastuti. 2003. Bahasa Indonesia: Dari Awam, Mahasiswa, sampai Wartawan.

Yogyakarta: Gama Media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: